Di era media sosial, anak-anak kita tumbuh dalam kepungan iklan dan tren unboxing. Pesannya seragam: kebahagiaan bersumber dari apa yang kita beli. Jika tidak hati-hati, anak akan tumbuh dengan mentalitas “selalu kurang” (scarcity mindset), yang merupakan musuh utama kebahagiaan dan iman.

Dalam Islam, syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, melainkan sebuah kesadaran bahwa setiap nikmat adalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Mengajarkan syukur di tengah budaya konsumerisme berarti mengajarkan anak untuk memiliki kontrol diri di atas keinginannya.’

Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan tidak menjadi orang tua yang “selalu mengabulkan”. Memanjakan si Kecil dengan menuruti setiap keinginannya hanya akan menciptakan jiwa yang sulit merasa puas. Dengan sesekali mengatakan “tidak” atau menunda keinginan anak, kita sebenarnya sedang memberi mereka ruang untuk menghargai proses dan usaha. Ketegasan ini bukanlah tanda kurang kasih sayang, melainkan bentuk tarbiyah agar mereka tidak menjadi hamba materi, melainkan pribadi yang mandiri dan berjiwa syukur.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah syukur. Karena pelajaran syukur terbaik tidak datang dari lisan, melainkan dari apa yang anak lihat di rumah. Ayah dan Bunda harus menjadi cermin pertama; jika kita sendiri masih sering mengeluh tentang model ponsel yang tertinggal zaman atau hobi memamerkan belanjaan di media sosial, maka kata-kata kita tentang syukur akan kehilangan maknanya.

Si Kecil adalah peniru ulung. Saat mereka melihat orang tuanya tetap tenang dan merasa cukup dengan apa yang ada, mereka belajar bahwa harga diri tidak ditentukan oleh label harga pada pakaian. Ajarkan bahwa nilai sebuah barang bukan pada harganya, tapi pada manfaatnya. Sepatu murah yang dipakai melangkah ke masjid jauh lebih bernilai di mata Allah daripada sepatu mahal yang hanya disimpan di lemari.

Syukur adalah perisai mental. Anak yang pandai bersyukur tidak akan mudah goyah oleh tren atau rasa iri. Dengan membatasi konsumerisme, kita sebenarnya sedang memberi ruang bagi hati mereka untuk mengenal sumber kebahagiaan yang sejati, rasa syukur dan kedekatan dengan rasa cukup, agar kelak ia bisa menjadi contoh diantara teman-temannya dan lingkungan .

Penulis: Indra Rizki

×